Saturday, October 10, 2015

Keep in Touch!

Hai, Aki!!

Thank you for the past 4 months. I thought that you are a quite and geek type of person, but after I know you, your character is really surprised me! Haha! Keep being awesome, keep inspiring others with your love to books.

Eventhough you are annoying and get mad easily, (but please don't be too often, LOL). I'll miss you and all the annoying things that are came with you.

One thing, be confident! Hehe, you're always hold your words back when you want to say something (especially during meeting).

I know you'll be awesome someday! Please keep contact, please keep to tell me stories, you are one of my unique friend that I've ever known. -messy grammar ehe sorry

with <3,
Cindot

---

Aki, the first time I met you, I feel you were great and hard worker because in this young age you already experiences become editor. I started to know you and you know, sometimes I think you annoying. But wheb we're getting closer, I already know you're not annoying but the funny and weird ones. But you seems far away and sometimes looks don't wanna be close to us.

Hahaha I hate you for that. You should know friends that care about you is rare and hard to find. See you later Aki

Veronica

---

Oke. Dua surat-yang-entah-akan-gue-beri-nama-apa itu menjadi pengantar perjalanan terakhir gue di Putpanda. Ya. Gue udah selesai bekerja dan "mendedikasikan diri" selama lebih dari 4 bulan di sana. Dan sekarang gue bisa kerja serabutan lagi sekaligus mencari pekerjaan yang lebih mapan. Apakah gue resign karena keinginan gue sendiri?

Putpanda adalah salah satu start-up company yang masih membutuhkan investor untuk membayar para karyawannya. Terlepas dari setinggi apa pun target profit yang harus dicapai, start-up company harus setidaknya memiliki investor yang bisa menyuntikkan vitamin perusahaan agar tetap sehat bugar. Tapi, Senin (10/5) kemarin bisa dibilang Tragedi 9/11 bagi perusahaan ini. Minim investor mengharuskan Putpanda merampingkan pengeluaran.

Caranya? Ada dua: (1) Mengurangi jumlah ekspat yang selama ini hilir-mudik di kantor karena bayaran mereka bisa ngabisin hampir 2/3 suntikan dana yang diterima oleh perusahaan dan (2) Memotong jumlah karyawan lokal yang "terlalu banyak". Dan gue jadi salah satu yang terkena cara cepat nomor 2.

Gue shock? Menurut lo? Sampe detik ini gue bahkan belum bilang ke orang rumah kalo gue sebenernya udah ... jobless. Bayangin: Minggu (10/4), sehari sebelum Tragedi 10/5 terjadi, gue dan temen-temen kantor seneng-seneng di Waterbom PIK. Main air dan wahana yang bener-bener bisa ngilangin stres biar siap tempur di medan kerja. Ini tuh kayak lo lagi naik balon udara terus tiba-tiba gas penggeraknya abis dan tiba-tiba terjun gitu aja. Sampe tanah udah wassalam.

Tapi, life must go on kan? Kalo kata Mumford & Son mah "There is no way out of your only life. So run on, run on!" Yaudah, gue harus run on. Dan untungnya, ini jadi pelajaran berharga buat gue dalam karir gue yang masih seumur jagung. Udah tau gimana rasanya di-PHK secara tiba-tiba. Udah tau gimana rasanya nulis surat pengunduran diri dengan cuma satu kalimat saat itu juga. Udah tau gimana rasanya menjadi orang yang termasuk golongan kiri. (Oke, yang terakhir too much.)

Gue bakal kangen sama anak Content. Serius. Mereka itu kayak temen SMA. Gila dan penuh semangat! Satu yang paling kentara gue dapet dari kerja di sini adalah team work. God, bahkan soal salary aja kita saling terbuka dan sampe di-meeting-in bareng-bareng!

---

Mau lebih melow? Oke. Gue bakal kasih sedikit "review" tentang anak-anak Content dari awal gue masuk Putpanda sampe hari ini.

Selo, gue ga tau lo itu apa atau siapa. Lo tinggalin gue gitu aja pas lo memutuskan resign tanpa ada a piece of sh*t word. Yah, itu memang hak lo. Tapi, lo anggap gue apa sampe lo sama sekali kept silence? Haha! (baper gue kumat,) Selain itu, lo harus tau kalo gue sedikit empati sama lo. Lo pernah bilang, "Gue udah beda sama kalian. Gue harus cari kerjaan yang lebih mapan karena gue udah umur segini sedangkan kalian masih bisa seneng-seneng." Gue lupa apa yang lo omongin waktu itu. Tapi gue tangkep hal itu. Well, mungkin gue akan berpikiran sama dengan lo beberapa saat lagi.

Dendy, God, I'll always keep you in my mind, man! Awal-awal banget pas gue baru masuk, gue selalu mikir, "Oke. Lo mungkin akan bareng sama Rangga. Kayaknya kalian punya universe sendiri yang gak boleh gue masukin." Dan gue saat itu baper dan memilih untuk gak sok kenal sama lo karena prinsip gue: "You talk first, then I talk you back." Tapi lama kelamaan, gue tau kalo lo mungkin bisa jadi belahan jiwa gue. Bisa ngurusin gue yang udah bau tanah ini. Bisa mandiin dan nyolatin gue, juga galiin makam gue.

Rangga, gue tau gue gak akan bisa jadi lo. Yang gue liat dari lo adalah "sempurna" (uwuwuwuwuwu). Yah, gue denger lo anak pak polisi, lo bisa jadi penjaga hati seseorang nanti. Tapi gue harap itu gue. Dan lo selalu bisa kejar semua mimpi lo. Nge-trip keliling Asia Tenggara, lanjutin S2. Hahaha. Gue too much ya. Tapi yang selalu gue inget dari lo adalah status skype lo: "work like a captain, play like a pirate." Nah, gue yakin lo ga bakal nyangka gue bisa sampe inget sampe sedetil itu. Gue akan selalu inget itu.

Cindot, you know, you're my first impression at work. What impression? Entahlah. Tapi begitulah. Aku bahkan ga bisa bilang "lo-gue" ke kamu. Itu mungkin something atau nothing, tergantung masa depan. Cekakak. Tapi yang selalu ada dalam pikiranku tentangmu adalah: pulang bareng selama hampir sebulan. Terus aku baper karena setelah itu kamu kayak annoyed sama aku karena memaksamu harus cepat-cepat beres-beres buat pulang bareng dan membuatmu menyuruhku pulang duluan. Aku sampe inget kamu pernah bilang, "Cewek itu sholatnya ga kayak cowok. Harus pake mukena dulu. Terus copot mukenanya. Terus benerin kerudung." Well, gue emang piece of sh*t. Bahkan sabar pun tak kumiliki.

Miftah, astaga! Gue baru tau lo anak Sastra Inggris yang suka banget baca, tiga minggu sebelum lo pergi dari Putpanda. Dan gue bisa bilang: "You're the coolest one!" Yah, mungkin karena gue bisa klop sama lo tentang banyak bacaan. Yang pasti sih karena lo kuliah Sastra Inggris dan lo pernah cerita apa aja yang dipelajari anak Sastra Inggris. Gue dulu sebenernya pengen ambil jurusan itu. Dan impian itu masih gue jaga sampe sekarang: kuliah jurusan Sastra Inggris. Well, "Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe"-nya udah kelar belom? Gue tunggu review lo!

Mba Smita, pada saat yang lain panggil lo dengan sebutan nama langsung, gue malah pake embel-embel "Mba" di depan. Yah, gue tau diri aja karena gue jauh lebih muda. (Plis jangan baper!) Dan gue tau lo susah banget dibuka. Tapi setelah terbuka, lo bisa asik juga. Dan gue gak bakal lupa pas liat KTP lo. Wow! Lo terlalu gigih biar bisa nurunin berpuluh-puluh kilogram berat badan. Dan setelahnya, gue sering tanya ga penting soal takaran kalori dari tiap-tiap makanan dan akhirnya gue install "MyFitnessPal" buat tau berapa kalori yang gue butuhin dalam sehari biar berat badan gue nambah. Maklum lah gue cungkring. Dan, lo juga ternyata doyan baca! Dan gue sampe dua kali pinjem buku lo dan yang terakhir belum gue baca karena timbunan gue terlalu banyak.

Ade, siapa sih lo sebenernya? Doraemon yang menyamar atau wujud manusia yang dikutuk jadi Doraemon tapi berubahnya lama banget. (Plis, gue pengin liat lo baper!) Tapi ya begitulah Ade. Ikon Content yang bisa jadi apa aja: uploader, updater, call center, dan rider yang bisa gue sama Rangga titipin beli bubur ayam buat sarapan. Kurang apa lagi coba? Semua semua semua... Dapat dikabulkan... Dapat dikabulkan... Dengan kantong ajaib...

Mba Vero, ape lo? Gue males sebenernya nulis tentang lo, tapi entar lo baper. Gue tau lo sebenernya orangnya feminis, tapi selalu lo tutupi dengan tampang sok tegar lo. Gue tau lo selalu ada buat Anak-anak Content. Kayak emak ayam yang melindung anaknya. Lo udah terlalu dewasa, Mba! Jadi, nikah sono! Terus punya anak, terus punya cucu. Terus tua deh jadi kayak gue!

Anindya, lo inget kita pernah ga tegur sapa sama sekali beberapa minggu? Gue inget banget waktu itu lo sebel sama gue karena lo ngira gue selalu ingin tau dan tukang nguping. Sebenernya iya juga sih. Cekakak. Tapi yaudahlah, baperan amat. Udah lo juga nikah sono sama Ervan, biar halalan toyiban peluk-peluknya.

Ajeng, ah elah! Gue kok bosen ya liat lo! Berangkat suka bareng. Balik juga suka bareng. Apakah kita dipertemukan di Putpanda untuk berjodoh? Atau kita dipertemukan di Putpanda untuk gue berjodoh dengan nyokap lo yang suaranya kayak penyiar radio malam yang bisa bikin cepet tidur? Entahlah. Tapi yang pasti, gue bisa liat lo orangnya easy-going dan gak mudah baper. Lo juga bisa speak-up dan mempertahankan pendirian lo. Itu penting! Tapi serius, kenalin gue ama nyokap lo. Lo bisa lah comblangin gue. Ya? Ya?

Dini! Astaga gue sampe lupa sama lo! Iyalah lupa, ketemu cuma tiga minggu doang. Tapi kok kayaknya gue tau banyak tentang lo ya. (Geer abis.) Yah, kita pernah semotor pulang-pergi kantor selama tiga hari. Walopun lo udah punya pacar brondong lo, gue punya gebetan, tapi tidak menutup kemungkinan untuk saling bertukar pikiran kan. Gue inget tiap pagi gue tanyain, "Din, bareng gak?" tanpa punya malu. Mungkin cowok lain bakal gengsi kalo nebeng, apalagi nebeng ke cewek. Tapi, yah, kecowokan gue emang patut dipertanyakan. Puas lo?

---

Udah semua kan? Ya udah. Ah, Audi dan Dika! Sayang, mereka bukan tim Content jadi ga gue review. Hahaha. Pokoknya pengalaman berharga banget deh ketemu sama kalian. Pengalaman berharga banget juga bekerja di start-up company, jadi tau gimana suasana di kota santri, asik senangkan hati... Lha?!

Sukses untuk kita semua! Duh, gue mau upload foto-foto kita, tapi ntaran aja dah! Keep in touch, ya guys!

(Abduraafi Andrian. 12: 57 AM)

Saturday, June 13, 2015

Dad's Story

Beberapa hari yang lalu, Mba Esti Budihabsari, seorang penerjemah dan editor terkenal, mengadakan giveaway di Grup Whatsapp yang aku lupa dalam rangka apa. Intinya, peserta harus mengirimkan tulisan tentang "Ayah" dari pengalaman mereka dengan ayah masing-masing. Banyak tulisan maksimal 200 kata.

Aku mengikutinya? Tentu saja. Aku sedikit memiliki harapan akan kemampuan menulisku setelah cerita pendek sebelumnya yang aku ikutkan dalam Cerita Berantai L.O.V.E Cycle Online Festival mendapatkan poin memuaskan. Gak percaya? Silakan cek di sini.

Nah, penasaran gak dengan tulisan yang aku ikutkan pada giveaway "Ayah" ini? Atau lebih penasaran dengan hadiahnya? Baiklah, aku tetap akan menuliskan tulisanku. Ini dia:

***

Sudah lebih dari dua tahun Abi berpulang. Terlalu banyak kenangan pahit, lebih-lebih manis, yang kami ukir bersama.

Ada saat ketika keluarga kami terpuruk. Waktu itu aku masih kelas 3 SD. Ummi kembali tinggal di rumah Mbah Kakung di Wanareja bersama adik. Sedangkan aku dan Abi masih tetap di rumah Cilacap sembari menunggu pembeli rumah kenangan itu. Rumah yang akan selalu ada dalam bayangan, yang akan selalu jadi kenangan.

Suatu malam, pada hari-hari terakhir kami (aku dan Abi) berada di rumah itu, ada arisan rutin bapak-bapak. Abi seketika menyuruhku mematikan lampu, berdiam diri di tempat, menunggu bapak-bapak yang sedang mengetuk pintu mengingatkan Abi untuk datang arisan itu pergi.

Aku ingat ketika Abi menyuruhku mengintip dari jendela depan yang tertutup gorden untuk meyakinkan mereka pergi. Aku ingat aku berjalan gontai di gelap ruang depan. Aku ingat ketika aku bicara, "Tidak ada siapa-siapa, Bi!" Aku juga ingat ketika Abi bilang, "Bagus. Waktunya kita tidur!"

Aku seketika terlelap di sampingnya, dalam dekapnya. Aku tak yakin Abi tidur bersamaku saat itu juga. Karena aku tak melihatnya dalam bunga tidurku.

***

Bagaimana? Awalnya, aku menulis terlalu panjang. Mengingat syarat batas maksimal kata yang disebutkan di atas, aku memampatkannya menjadi seperti itu. Paling tidak, aku tidak menggubah esensi tentang "kenangan ayah". Aku sengaja tidak memberikan judul. Judul hanya membuat segalanya jadi kacau-balau. Ketika segalanya tentang tulisan hanya disimbolkan dengan satu atau beberapa kata, aku rasa itu tidak adil bagi keseluruhan cerita. Yeah, ini cuma opini saja.

Dan aku senang akhirnya Mba Esti memenangkanku dalam giveaway ini, jadi aku berhak atas hadiahnya yang sangat berharga itu. Mau tau hadiahnya? Salah satu bukunya sudah sempat kubaca.

Terima kasih, Mba Esti!

Saturday, May 30, 2015

Review Cap - 2014

Ah, kangen rasanya menulis di blog pribadi ini. Seharusnya setiap apa yang kulakukan dan kualami kutulis semua di sini. Terakhir aku menulis pada November 2013! Dua-ribu-tiga-belas! Ya ampun, sudah banyak sekali kejadian dan hal-hal yang kualami selama dua tahun terakhir. Dari pekerjaan pertamaku hingga kelulusanku.

***

Aku mulai saja dengan momentum awal tahun: bekerja paruh waktu di Penerbit Nourabooks sejak pertengahan Februari—apa Januari ya?—hingga Mei. Ketika berkutat dengan kuliah sembari update status penerbit tersebut yang sudah dijadwalkan, aku merasa aku punya banyak hal yang harus dilakukan. Ketika aku berpikir aku berguna paling tidak untuk penerbit itu dan tanggung jawab untuk menyelesaikan kuliahku.

Update status? Ya, aku bekerja paruh waktu sebagai publisis di sana. Pekerjaan yang sepertinya tidak mungkin ada di dunia ini tetapi ternyata ada dan diperhitungkan. Tidak seperti yang dipikirkan banyak orang, tidak sembarang update status untuk penerbit tersebut, tentu saja. Aku harus mengerti seluk beluk apa yang harus disampaikan melalui media sosial dengan bumbu promo untuk menarik massa akan produk itu, yang tentu saja buku.


Aku hanya bertahan satu masa kontrak—sekitar tiga bulan—di sana karena aku harus fokus untuk menyelesaikan Tugas Akhir-ku. Walaupun hanya ngantor dua kali seminggu—itu pun terserah mau hari apa—pada waktu itu aku merasa kelelahan setelah sampai rumah. Bayangkan saja aku harus berangkat jam enam pagi dan biasa sampai rumah setelah jam delapan malam.

***

Keluar dari sana, seperti yang sudah kubilang, aku fokus menyelesaikan kuliah, tepatnya Juli. Kalau dengan nge-print kertas bertumpuk-tumpuk untuk revisi dan belajar otodidak membuat website bisa dibilang halangan, aku bisa melaluinya dengan, yah, lumayan. Intinya lulus deh. Dan pada Desember, aku wisuda. Begitulah.

Bersama Dayang-Dayang KKP. Teh Rini (kiri) dan Tiffany.

***

Ini yang kutunggu-tunggu ingin kuceritakan. Tentang karier yang akan-kubawa-entah-ke-mana. Selama penantian pengumuman kelulusan September hingga wisuda Desember, aku tak tinggal diam. Yah, secara teknis aku diam sih, soalnya kerjaanku hanya membaca. Tapi mungkin aku membuahkan hasil dari pohon kertas lebat yang kutimbun sejak awal kuliah.

Karena semakin dalam aku mencintai buku, aku ingin tidak hanya membaca. Aku ingin lebih dari sekadar membeli dan menyobek segel plastik buku. Aku mencoba menyunting beberapa cerpen teman yang mereka pos di blog. Awalnya, aku yang meminta mereka.

Bagaimana kalau cerpenmu aku edit? Masih banyak yang salah nih soal tata bahasa dan gaya penceritaan. Gratis kok.

Tentu saja disambut baik oleh mereka dan, tragisnya, mereka menyukai hasil suntinganku. Tragisnya sesi dua, aku menikmatinya. Berlama-lama di depan layar monitor dengan deretan huruf-huruf. Sepertinya aku mendapatkan nyawa. Hingga suatu hari, salah satu penerbit mencari seorang editor pemula untuk menyunting naskah terjemahan yang akan mereka terbitkan.


Itu membuatku seperti terbang tinggi ke angkasa karena tidak menyangka. Aku segera melakukan hal-hal yang harus kulakukan. Selama Agustus aku berkutat dengan naskah distopia tersebut. Hingga pada awal September aku dikabari bahwa novel suntingan pertamaku terbit. Aku kudu piye? Senang, tentu saja! Namaku tercetak di salah satu buku yang ada di toko buku; yang dibaca orang-orang. Atas pengalaman berhargaku ini, aku sangat berterima kasih kepada Mba Muthia Esfand. Atas bimbingannya, atas kesempatan menyunting pertama, atas kesempatan bekerja (lebih ke main-main saja sih) in-house sebulan di kantornya.

Ada namaku?

Entah aku yang terlalu lancang atau Mba Muthia yang terlalu baik, aku keterusan meminta proyek kerjaan kepadanya entah itu menyunting atau memeriksa aksara naskah-naskah terjemahan. Hingga suatu saat aku berkicau tentang pekerjaan masa depanku. Yah, kenapa tidak? Hehehe.


***

Selain karier di dunia perbukuan, aku bergabung dengan komunitas yang, menurutku, eksklusif dan populer. Yah, biar saja apa kata orang tentang komunitas ini, aku tetap akan menyebutnya begitu. Blogger Buku Indonesia, namanya. Satu hal yang harus kaupenuhi syarat menjadi member adalah memiliki blog tentang buku. Aku? Tentu saja punya!

Aku bergabung sejak Mei dan aku terus mencoba berkontribusi pada komunitas tersebut hingga suatu hari Bang Epi, koordinator umum BBI, mengangkatku menjadi pengurus di bagian Divisi Humas. Tanpa ajang pencarian bakat. Tanpa pemilihan abang none. Tanpa angin dan badai menyerbu. Yah, semua sudah kuceritakan di sini.

Acara pada Desember adalah yang paling berkesan. Mungkin juga karena pengalaman pertama, aku berpusing-ria di acara BBI @ IRF 2014 karena aku ditunjuk sebagai koordinator acara. Di samping memikirkan PNFI, komunitas tersayangku, aku juga harus memikirkan BBI, komunitas tersayangku nomor dua, karena keduanya berada pada event yang sama di hari dan waktu yang sama.


***

Bisa disimpulkan, 2014 adalah tahun krusial bagiku. Dan semuanya berhubungan dengan buku. Lalu, aku melakukan apa di 2015?

Tuesday, May 19, 2015

Menulis Berantai #TimMoveOn Bagian 1 - Lifted Up

[Image Source]
Satu dari sekian banyak alasan bagiku untuk terus melangkah maju adalah tidak ada yang perlu diungkit dan dikenang lagi di belakang. Begini, bila ada kesalahan atau sebut saja kegagalan yang terjadi pada hari-hari sebelum ini, apakah kamu akan terus mengingatnya? Mungkin benar citra itu akan selalu hadir dalam keseharianmu. Tapi apa itu perlu dibuai? Perlu diperhatikan hingga kamu akan terus-menerus merasa salah dan gagal? Aku dengan tegas menolak.

Hal lainnya yang menjadi alasanku untuk terus melihat ke depan adalah wanita yang ada di hadapanku sekarang. Aku ingat pertama kali menatap wajahnya di lift yang mengangkatku ke lantai tempat kantor baruku berada. Lift yang mempertunjukkan senyumnya yang manis dan lugu. Lift yang pada saat itu hanya ada kami berdua di dalamnya. Lift yang tombol di tepi pintunya menunjukkan satu nomor yang menyala sama. Itu berarti kantor kami berada di lantai yang sama. Lantai 10.

Aku duduk di depannya, di food court lantai dasar gedung tempat kami berdua bekerja, menunggu makan siang kami datang. Aku sedang mengomel tentang kerjaan yang menumpuk. Dia hanya diam, memperhatikanku dengan saksama seolah aku sedang berkhotbah di depan jemaah majelis taklim.

“Aku tahu aku seharusnya mengantisipasi ini. Kau ingat ketika kita berada di lift yang sama dua minggu lalu? Saat itu aku berpikir pekerjaanku yang sekarang lebih santai, atau paling tidak, aku bisa mengobrol sejenak dengan rekan kerjaku. Itulah alasan aku ingin pindah kerja. Tetapi sama saja. Ya Tuhan, aku kan baru kerja di sini sebulan.”

“Kamu tahu aku baru mengenalmu. Tapi aku suka ketika kamu bicara panjang lebar tentang apa yang kamu rasakan. Aku hanya duduk diam dan mendengarkan ocehanmu.” Dia tersenyum. Senyum yang mengalihkanku saat pertama kali kulihat di lift. Senyum yang membuatku melupakan Tiffany sejenak.

Aku sedikit berbohong padanya tentang alasanku melamar pekerjaan di kantorku yang sekarang. Benar bahwa aku ingin lebih santai bekerja sehingga aku melamar pekerjaan di sini. Benar bahwa aku ingin mencoba pekerjaan baru yang berbeda dari pekerjaanku sebelumnya. Tapi aku tidak—setidaknya belum—mengatakan bahwa sesungguhnya yang membuatku sangat ingin pindah dari kantor lamaku adalah Tiffany.

Semua orang tahu bahwa aku dan Tiffany berpacaran. Kami bekerja di perusahaan yang sama, walaupun beda divisi. Kami juga kuliah di universitas yang sama dan lulus di tahun yang sama. Kukira banyak kesamaan membuat semuanya lebih mudah. Perkiraanku salah.

5 tahun. Waktu yang cukup lama dalam menjalani suatu hubungan. Tiga bulan lalu, aku dan Tiffany menghadiri resepsi pernikahan teman kuliah kami. Kedua mempelai menanyakan kapan kami menyusul. Teman-teman lain yang hadir pun berkelakar lebih baik kawin dulu daripada nikah. Kami berdua hanya merespons dengan senyuman.

Semuanya masih sama hingga bulan lalu. Bagai godam yang menghantam dada, wanita yang menjadi pendamping skripsiku—bahkan mereka menyebutnya pembimbing amatirku—menikah dengan pria lain tanpa menjelaskan apa pun padaku. Dan godam itu terasa semakin menyesakkan ketika aku tahu bahwa wanita yang kuangan-angan menjadi ibu dari anak-anakku itu bersanding di pelaminan bersama sahabatku sendiri, Gilang.

***

Simak kelanjutan ceritanya di embertumpah oleh Bimo Rafandha (@bimorafandha).

#TimMoveOn, I'm In


Begitu sulit aku mencoba menghidupkan kembali blog ini. Yah, sejak terlalu sibuk menulis ulasan dan segala hal tentang buku bersama Bibli, aku tidak lagi menulis di sini. Tapi kesempatan menjadi #TimMoveOn yang digagas Penerbit GagasMedia membuatku "terpaksa" menulis di sini.

Awalnya aku cuma iseng ikutan acara L.O.V.E Cycle Online Festival dari penerbit itu dalam rangka penerbitan serial novel terbaru mereka. Aku pilih #TimMoveOn dari enam tim yang diberikan karena, yah, dari dalam lubuk hati paling dalam aku masih belum bisa melupakan si dia. Si dia yang sudah pisah sekitar 2 tahun lalu itu masih saja terngiang di kepala. Dan aku tentu saja ingin move on.

Dan aku bertugas menulis berantai. Ini juga iseng. Aku tidak pernah sekalipun mengikuti lomba atau acara menulis, tapi, lagi-lagi, dari lubuk hati paling dalam aku sangat ingin menulis. Mungkin dengan cara ini, dengan cara dikejar deadline, aku bisa memulai menulis. Aku bahkan mengicaukan keanehan yang terjadi semalam ketika aku mulai menulis.




Kicauan di atas memang begitu adanya. Tidak ada yang dibuat-buat, sungguh. Dan ternyata menulis adalah satu hal yang menyenangkan. Kita bisa menuangkan segala yang ada dalam kepala; mengeluarkannya dengan indah dan berseni. Tunggu hasil tulisanku pada postingan berikutnya ya. Info selanjutnya tentang acara ini: L.O.V.E Cycle Online Festival.

#TimMoveOn, I'm in!


Monday, November 18, 2013

A Month Celebration

Kalau dihitung dari tanggal 19 bulan lalu dan mengingat Oktober adalah bulan berjumlah tiga puluh satu, jadi pada hari ini, 18 November adalah tepat hari ketiga puluh. Lalu ada apa sebenarnya? Mungkin sedikit saja aku ingin memperingati meninggalnya Ayahanda yang terbaik itu. Hanya mengingatkanku bahwa sudah selama ini Almarhum Abi meninggalkanku dan keluarga.

Semalam, aku sempat berbincang dengan bude ketika pulang jalan-jalan. Aku baru tahu tentang parkataan adikku, Lala, tentang kepergian Abi. Lala bertanya kepada Ummi, ”Kalau Mamas udah kerja terus menikah dan Aku juga kerja, Ummi bakalan sama siapa?” Dia juga bilang, “Aku mau langsung kerja aja mi.” Dan satu lagi perkataannya yang membuatku terngiang, “Tapi iya juga ya mi, Aku lebih baik kehilangan Abi daripada Ummi karena Ummi yang selalu bisa dekat.”

Apa yang aku lakukan setelah itu? Jujur aku langsung merenung di kamar. Sembari meneteskan air mata, aku berpikir bahwa adikku lebih dewasa ketimbang aku. Aku bahkan tidak ada waktu untuk terus berlama-lama di rumah waktu itu. Aku langsung berangkat lagi ke rantau karena kuliahku yang tak bisa ditinggalkan. Tapi Lala, dia bahkan tahu apa yang harus dia lakukan di masa depan. Begitu tidak ada apa-apanya aku sebagai seorang anak.

Terlepas dari rasa bersalahku yang tinggi, hingga detik ini pun aku masih belum percaya bahwa Abi telah tiada. Tapi tidak seperti itu kenyataannya. Aku tahu bahwa perasaan seperti ini tidak akan pernah pergi. Logikanya, kau tidak akan pernah melupakan orang yang kau sayangi bukan? Kau tidak akan pernah ingin melihat orang yang sayangi pergi jauh darimu, apalagi selama-lamanya.

Ini sudah menjadi jalan yang terbaik. Lebih cepat kau mengetahui bahwa kau ditinggal orang yang kau sayangi, akan lebih cepat pula kau menerima kepergian itu. Dan hal itu merupakan hal yang baik. Walaupun aku tahu, ditinggal seorang Ayah, seseorang yang menafkahi keluarga, yang selalu bisa mengatasi segala masalah keluarga, yang memberi arah dan petunjuk kemana kita harus melangkah, itu adalah hal yang berat.

Tidak banyak yang ingin aku jelaskan kali ini. Hanya ingin bilang bahwa setelah kepergian Abi selama satu bulan ini, aku mencoba untuk menjadi anak yang baik, anak yang pastinya seberguna Abi di mata keluarga, walaupun sekali lagi aku bilang ini berat. Tidak ada yang bisa menandingi ketulusan, kegigihan, dan kerja keras yang tinggi milik Abi. Tapi harus tetap kucoba lakukan. Semoga Allah mengijinkan…

Tangerang, 18 November 2013

(ketika hal yang tidak harus diperingati, diperingati)

Saturday, October 26, 2013

Shocking Obituary of Dad

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.

Pagi itu, Sabtu, 19 Oktober 2013, tepat seminggu yang lalu, berita itu menyebar dengan cepat. Banyak yang tidak percaya dengan berita itu. Sebagian harus bertanya dua kali tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian yang lain hanya terdiam sesaat setelah mendengarnya. Rumah menjadi begitu ramai, tangis semakin pecah di antara saudara dan kerabat, diselingi hentakan hati yang masih tidak percaya akan takdir yang sudah ditetapkan.

Ada apa sebenarnya di pagi itu?

Abi meninggal.

Pagi itu Abi jogging seperti yang biasa ia lakukan ketika berada di rumah. Dengan membawa sepeda, ia berlari tanpa menaiki sepedanya. Abi selalu menyapa kepada siapapun yang berpapasan dengannya. Bahkan pagi itu ia bertemu dengan Tante Linda juga Mbah Anto dan Mbah Tarmi, saudara dari keluarga Ibu Mertuanya. Entah bagaimana ceritanya hingga Abi berhenti di depan sebuah klinik. Abi melepaskan sepeda dengan menyetandarkan sepeda terlebih dahulu. Dan tiba-tiba ia terjatuh….

Setelah beberapa saat, berita pun menyebar di telinga saudara, kerabat, dan kolega. Tidak ada yang percaya akan berita itu karena setahu mereka Abi adalah sosok yang kuat dan tidak pernah memiliki penyakit berat. Terutama Ummi. Ummi sangat tidak percaya, sangat terpukul. Hari itu mungkin hari terburuk bagi Ummi. Belahan jiwanya yang sudah lebih dari dua puluh tahun bersama meninggalkannya untuk selamanya. Kalau aku? Jangan tanya!

Dokter yang berada di klinik tempat Abi terjatuh menyatakan bahwa itu adalah serangan jantung secara tiba-tiba. Serangan jantung ini dapat diderita oleh siapapun, bahkan orang sehat. Penyakit ini disebabkan oleh kelelahan akut. Sungguh mengerikan.

Tidak dipungkiri bahwa Abi mungkin memang kelelahan, mengingat ia baru saja tiba jumat dini hari dari Serang karena adik pertamaku, Lala, kejang-kejang. Hal itu sangat mendesak karena sudah dua kali terjadi pada Lala. Jumat pagi Abi membawa adik pertamaku untuk berobat. Tidak cukup istirahat karena Abi mengurusi Lala.

***

Jadi, sekarang apa? Setelah satu minggu melewati hari-hari dengan mengetahui bahwa Abi telah tiada. Sungguh berat, apalagi bagiku sebagai anak pertama. Sebagai pengganti Abi untuk keluarga. aku tidak pernah berpikir bahwa Abi akan meninggalkanku secepat ini.

Aku bahkan tidak memandikannya, tidak membawa jasadnya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir, tidak menyolatinya langsung di depannya. Aku juga tidak melihat wajahnya untuk yang terakhir kali karena perjalanan yang memakan waktu. Aku di Tangerang, Abi di Cilacap. Aku sedih, tentu saja. Aku merasa bahwa aku tidak berguna, bahkan untuk mengeluarkan kotoran dari duburnya pun aku tidak bisa. Tapi bagaimana lagi, hari semakin sore dan memang harus secepatnya untuk menguburkan jasad Abi. Aku mengikhlaskannya, walau sejujurnya sangat berat.

Terakhir kali aku bertatap muka dengan Abi adalah hari Kamis tanggal 26 September lalu ketika kami semua mengantarkan pakde dan bude berangkat haji. Waktu itu kami makan siang bersama di rumah makan padang. Abi terlihat begitu senang dan menyenangkan, tawa selalu ada dalam mobil yang kita gunakan untuk mengantar rombongan haji. Bahkan aku bertemu dengan Abi dua minggu sebelum Abi meninggal. But, who knows? Only God knows.

Tidak ada firasat, tidak ada tanda-tanda, semua berjalan sesuai rencana Allah, sesuai kehendak-Nya. Terlalu banyak kenangan yang terpatri dalam hati dengan sosok Abi. Sosok yang selalu memberikan kekuatan dan ketegasan dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Sosok teladan bagi seluruh keluarga. Sosok yang selalu memberi kehangatan dan keceriaan. Sosok yang akan selalu dikenang karena kebaikannya, Insha Allah….

Satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat untuk langsung menghilangkan kesedihan. Tetapi, hidup harus terus berjalan dan aku harus menerima apa yang dikehendaki oleh Allah. Aku harus terus berjuang demi keluarga. Cepat atau lambat kita akan merasakan kehilangan, merasakan kematian, merasakan hilang dari kehidupan di dunia.

Aku berdoa semoga arwah Abi diterima di sisi Allah, diampuni segala dosa-dosanya, dan mendapatkan tempat yang baik oleh Allah. Semoga aku dapat meneruskan perjuangan Abi. Semoga Ummi dapat tegar menghadapi hidup. Semoga adik-adikku mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Insha Allah….

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.

Tangerang, 26 Oktober 2013

(ketika doa menyatukan hidup dan mati)

Monday, October 7, 2013

Two Decades in October, 7th

Oke. Sebenarnya ini tidak begitu penting untuk ditulis, tapi, ayolah … ini kan ulang tahunku sendiri. Aku akan buat sesuatu tentang hari ini. Walaupun tidak menghasilkan suatu barang tapi menghasilkan suatu memori yang sangat perlu untuk disebut kenang-kenangan.

Jadi, dua puluh tahun yang lalu aku dilahirkan dari rahim ibuku. Dengan perawatan yang baik dan segala sesuatu yang diberikan oleh kedua orang tua dan keluargaku, aku masih bisa bernafas hingga detik ini, detik ketika aku mengetik sesuatu untuk blogku. Aku bersyukur tentu saja. Tetapi yang terpenting adalah aku masih bisa melakukan apapun yang aku dan kedua orang tuaku inginkan.

Tidak ada yang spesial di hari ini. Sungguh! Hanya hari senin biasa ketika aku berangkat ke kampus di teriknya sore untuk menimba ilmu. Kecuali orang-orang yang kukenal, tak ada seseorang pun yang mengetahui ini hari spesialku. Mungkin bila aku mengenakan kalung bertuliskan: “Hari ini adalah hari ulang tahunku,” itu akan menjadi berbeda. Tapi, benarkah aku mau melakukannya?

Ya. Cukup aku dan orang-orang terdekatku saja yang tahu tentang hari ini. Bertubi-tubi ucapan selamat mereka lontarkan bagai anak panah yang diterbangkan oleh para ksatria untuk melawan musuh. Oh, itu terlalu jauh! Fantasimu mulai berulah! Aku mendapatkannya melalui pesan sms, posting wall di facebook, kicauan di twitter, chat di whatsapp, dan e-mail yang masuk. Lengkap sekali!

Ucapan pertama yang kudapat adalah dari ibuku, yang tidak lama berselang pacarku juga memberikan ucapan. Keduanya melalui pesan singkat. Ya, aku memang bodoh karena tidak menunggu pukul 12 pagi untuk sejenak merayakan detik-detik hari jadiku. Tapi apa itu penting? Tidurlah yang lebih penting. Jadi, kuputuskan untuk tidur saja dan mengubah profil ponsel menjadi airplane mode (itu yang selalu kulakukan ketika hendak tidur). Dan ketika aku bangun, dua pesan singkat itu masuk secara bersamaan. Selanjutnya adalah ayahku. Ternyata dia tidak lupa.

Dia, Mom, dan Dad

Selanjutnya adalah posting wall di facebook-ku. Aku sangat bersyukur karena banyak yang memberiku ucapan di sana. Sekitar empat puluhan lebih teman-teman memberikan ucapan selamat dan mendoakan yang terbaik buatku. Sayang sekali, aku tidak bisa menyebutkan satu-satu ucapan itu. Aku hanya perlu mengamini perlakuan tulus mereka yang peduli kepadaku.

Total

Selain di dinding facebook, ucapan selamat juga diberikan melalui dinding grup yang kubuat: Penggemar Novel Fantasi Indonesia. Aku terharu melihat hal itu. Itu berarti aku sangat dihargai di sana. Walaupun kami tidak pernah bertatap muka secara langsung, tapi kita bagaikan saudara yang saling sharing tentang novel fantasi (tentu saja) dan berbagai macam ejekan menggelikan. Kebanyakan dari mereka berharap aku memiliki lebih banyak buku dan membaginya dengan mereka. Aku mengamininya, toh aku memang suka memiliki banyak buku.

Posting di Dinding Grup Penggemar Novel Fantasi Indonesia

Lalu ada juga yang memberi selamat melalui kicauan di twitter.

Kicauan Mereka di Twitter
Dan tidak lupa aku mengecek e-mailku barangkali ada yang memberi selamat. Ternyata ada yaitu dari kaskus dan salah satu website jualan atau spam. Aku tidak menyalahkan dan tidak terlalu memikirkan. Mereka akan selalu mengirimkan ucapan selamat kepada e-mail yang mereka miliki di database mereka dengan melihat tanggal lahir orang yang berulang tahun. Tapi itu bukan masalah. Bahkan google pun mengganti huruf G-O-O-G-L-E di website dengan kue ulang tahun dengan ucapan “happy birthday.” Haha. Aku menganggap itu sebagai pujian.

Google Mengucapkan Selamat

Nah yang terakhir adalah chat di grup Whatsapp. Terlihat sangat gaul bukan? Oh, aku baru dua puluh kok! Ada tiga grup: Twist’er Crew (grup alumni SMA sekelasku), Fantasy Bookworm (grup penggemar novel dan buku, mereka adalah member grup PNFI di facebook yang memiliki Whatsapp), dan Something Wrong (grup yang memang ada sesuatu yang salah di dalamnya. Bukan, bukan. Itu grup teman-teman terdekatku). Mereka semua memberi ucapan selamat kepadaku.

Twist'er Crew

Fantasy Bookworm

Something Wrong

Dan sedikit informasi yang aku juga baru tahu. Bahwa aku terlahir di hari jadinya kota Yogyakarta. Lalu, apa? Tidak! Aku hanya berpikir bahwa mungkin aku bisa sedikit berkorelasi dengan kota itu. Kota dimana adat-istiadatnya masih terjaga dan sangat idaman untuk para masyarakatnya, mungkin bisa dihubungkan dengan aku yang harus bisa menjaga kesopanan dan keramahan diri. Itu saja!

Aku tidak tahu apa gunanya aku menulis ini. Aku hanya ingin membuat peringatan dua dekade punyaku sendiri supaya aku tahu betapa aku sangat bersyukur pada Allah atas segala yang telah diberikan kepadaku hingga aku ber-dua dekade. Selain itu, sebagai pengingat ketika aku berusia tiga puluh atau bahkan empat puluh tahun, jika Allah mengijinkan; bahwa aku pernah berumur dua puluh, bahwa aku pernah remaja yang terkadang aku sendiri tidak tahu cara mendeskripsikannya karena aku terlalu kurang pergaulan dan sosialisasi dengan teman sebaya.

Di umurku yang baru ini, aku membuat komitmen untuk menjadi seorang lelaki yang lebih dewasa, yang selalu menahan nafsu amarah dan birahi, juga lebih mengerti arti kehidupan yang akan melembut ketika kita bekerja keras dan akan menjadi keras ketika kita melembut. Entah apa yang kukatakan, tapi memang begitulah hidup. Komitmen? Bukan, itu adalah doa atas diriku sendiri.

Dirgahayu yang ke-20 tahun, diriku! Semoga bisa membanggakan setiap orang yang sudah memberimu kehidupan baik itu sedikit, apalagi yang banyak. Semoga menjadi penolong ketika ada yang membutuhkan dan menjadi pemberi ketika ada yang meminta. Jaga terus imanmu, berpegang teguhlah pada ajaran agamamu yang lurus. Amin.


Tangerang, 7 Oktober 2013
(ketika umur bertambah dan kesempatan hidup berkurang)

Saturday, October 5, 2013

Maybe, There was Something Wrong with My ... What?!


Welcome October! Aku harap bulan ini adalah bulan terbaikku, atau paling tidak bulan yang baik untukku. Entah kenapa, setiap manusia mengaggap bulan kelahiran mereka merupakan bulan kebaikan mereka. Tapi, tidak ada salahnya, karena bulan itu merupakan bulan pertama kali mereka dilahirkan ke dunia. Yeah, me too….

Aku sangat optimis dengan semester ini, semester kelima dari perkuliahanku. Semester penentuan karena latihan membuat Tugas Akhir ada di semester ini. Bila aku gagal, mungkin di semester selanjutnya aku akan kesulitan membuat Tugas Akhir. Aku sangat berharap peminatan yang beberapa bulan lalu sudah kupilih menjadi hal yang bagus bagiku kelak. Oh, kalau kalian tahu tentang apa yang terjadi tentang ini…. Itu sangat menjengkelkan. Akan kuberi tahu.

Ya, aku terlalu berharap. Aku tidak ada dalam kelas yang sesuai dengan peminatan yang kupilih. Awalnya, aku pikir itu merupakan kesalahan server karena terlalu banyak mahasiswa yang berada di semester lima. Mungkin sang operator server di sana tidak terlalu jeli untuk mengetiknya. Mungkin aku salah melihat. Segala hal kaulakukan agar apa yang seharusnya kau dapatkan itu terjadi. Oh, that’s a quote! Write it down! Aku terus menerus mengecek jadwal di website kampus, tapi tidak terjadi perubahan hingga perkuliahan dimulai.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin aku salah mengklik button pilihan waktu itu, tapi tentu saja tidak. Aku punya bukti. Malahan aku tulis di blog untuk sesuatu yang penting seperti itu. Pada awal perkuliahan, aku bertanya pada teman-teman mengenai hal ini, dan … mereka juga mendapatkan hal yang sama. Kecuali mereka yang telah memilih pemilihan itu.

Jadi, ceritanya, pada semester empat lalu para mahasiswa semester empat diberikan pilihan untuk memilih peminatan dari jurusan yang mereka tempuh dan aku memilih Business Programming untuk aku dalami di semester lima. Tapi pada awal semester lima aku mendapat jadwal kuliah untuk Web Programming, begitu juga dengan teman-teman semester yang sama denganku. Tentu saja mahasiswa yang memilih selain Web Programming, termasuk aku resah mengapa tidak cocok dengan peminatan yang sudah kami pilih. Setelah kami konfirmasi, jawaban dari pihak akademi sungguh mengejutkan: karena peminatan Web Programming adalah yang terbanyak dipilih oleh para mahasiswa.

Jadwal Kuliah Semester Lima


Wow! Mengejutkan! Setelah apa yang sudah kami lewati, kami tidak mendapatkan apa yang seharuskan kami dapatkan. Dan itu membuat kami malas berangkat kuliah. Khususnya aku yang tidak mendapatkan hak atas pilihanku. Setengah hati kaulakukan apa yang tidak ingin kaulakukan. But, yeah, of course I’m trying!

Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul: mengapa pada waktu itu kami diminta “memilih”? Tentu saja kami akan menunggu dan menagih apa yang kami pilih. Mengapa mereka tidak meminta kami untuk “memberi suara” saja? Sedikit saja kata dalam kalimat yang kau katakan itu salah, maka itu akan membuat persepsi yang berbeda. Oh, that’s also a quote. Write it down! Hurry!

And the last question is: what’s wrong with my college? So damn, I don’t know!

***

Selanjutnya aku akan bercerita sedikit tentang kisahku, tentang seseorang yang sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Pernahkan kalian merasakannya juga? Pernahkah kalian berpikir hal itu? Walau hanya sesaat? I guess so…

Jadi, mengapa aku bingung? Suatu saat aku bertingkah seperti layaknya seorang suci yang baru keluar dari masjid setelah melakukan ibadah dengan khusuk. Aku yang selalu bersyukur atas karunia Tuhan dan selalu meminta ampun atas segala dosa yang telah kuperbuat. Oh ya, aku selalu berpikir positif dan tenang pada saat aku menjadi dia.

Tapi tidak jarang aku bertingkah seperti seorang kafir yang bahkan tidak akan berhenti membaca novel atau menonton film  pada saat adzan berkumandang yang seharusnya aku meninggalkan semuanya dan beranjak menuju masjid. Aku bahkan tetap santai melakukan hal-hal semacam itu, bahkan berharap adzan itu segera selesai karena sangat mengganggu. Dia sungguh kafir pada saat itu.

So… what’s wrong with my soul? Let me tell me something. What did I say?

Jadi, bagaimana ya…? Emm…. Manusia memang makhluk yang tidak mudah ditebak, bahkan sebaik atau seburuk apapun mereka. Mereka yang dulunya pemuja Tuhannya yang taat, sekarang berganti menjadi preman kampung yang ketat. Dan sebaliknya. Itulah manusia.

Maka dari itu, Tuhan selalu memberi penawaran yang luar biasa melalui firman-Nya. Bahkan penawaran yang apabila kita mengambilnya kita akan untung besar tanpa merugikan Sang Empunya sedikitpun. Penawaran untuk selalu berteguh diri pada keimanan-Nya. Tuhan akan membayar bagi mereka yang selalu melakukan itu, yang selalu taat, yaitu surga yang indah. Yang kita bahkan kekal berada di dalamnya. Yang kita bahkan bisa meminum anggur dan susu dari sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Yang kita bahkan mendapatkan segala yang kita inginkan pada saat memikirkannya.

Oh, sungguh hal itu sangat indah dan aku, khususnya, akan selalu mencoba dan terus berlatih untuk menerima penawaran itu, penawaran yang kita akan untung besar suatu hari nanti. Tuhan sudah berjanji dan janji-Nya tak akan diingkari.

Tentu saja penawaran adalah penawaran. Tidak semua manusia mengambil penawaran itu. Mereka selalu berpikir bahwa dunia ini adalah surga terindah mereka. Yo, you know what I mean yo…. (Inspired by the series I’m watching now: Breaking Bad Season 1. So funny, btw.)

***

Ya … pada akhirnya aku berpikir bahwa semua ini adalah ketetapan Tuhan yang Maha. Bahkan dari apa yang aku pilih dan pinta, tidak selalu kudapatkan secara cuma-cuma dan segera. Butuh waktu. Mungkin digantikan dengan yang lebih suitable untukku.

Aku sudah akan 20 tahun beberapa hari lagi. Aku berharap pada diriku untuk bersikap lebih dewasa dan lebih mengerti arti hidup.

Finally, the question is: what’s wrong with all of mine? And the answer is: there’s no wrong with it. That’s all right, in the hand of God. Only God knows.


Tangerang, 5 Oktober 2013
(Ketika hal yang salah berubah menjadi mimpi indah)

Wednesday, October 2, 2013

Group's Event: Reading Challenge #2

Oke ini adalah catatan kaki mengenai Reading Challenge kedua di grup “Penggemar Novel Fantasi Indonesia” yang dilaksanakan selama satu bulan dari tanggal 1 sampai 30 September 2013 dengan saya sendiri sebagai host-nya.

Kita mulai darimana? Format acara Reading Challenge. Setiap Reading Challenge memiliki perbedaan, tapi dengan dasar yang sama: membuat review atas buku yang sudah ditentukan untuk dibaca. Jadi, event ini dibuat untuk meningkatkan kreativitas dan imajinasi para penggemar novel fantasi supaya mereka tidak hanya gemar membeli novel tebal dan membacanya saja, yang sepertinya semua orang bisa lakukan. Mereka ditawarkan untuk membuat review atau ulasan tentang apa yang mereka baca, tentu saja dengan subjektivitas mereka masing-masing yang dapat mengasah tingkat kreativitas individunya. Menarik bukan?

Selanjutnya adalah pemilihan novel fantasi untuk bahan ulasan. Hal ini penting karena setiap individu memiliki kegemaran sendiri tentang jenis novel fantasi yang mereka baca. Dan untuk RC kedua ini, sudah disepakati untuk memilih novel fantasi lokal sebagai bacaan untuk di-review. Mengapa? Karena tidak banyak yang tahu novel fantasi lokal itu seperti apa; bagaimana cerita dan rasa  yang disuguhkan para penulis lokal. Selain itu, dalam event RC pertama sudah dilaksanakan untuk membaca novel fantasi luar negeri. Dan novel yang terpilih untuk RC kedua ini adalah Planetes karya Ziggy Zee.


Planetes by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Setelah kedua hal itu disepakati, RC pun dilaksanakan dengan harapan setiap individu mengikuti acara tersebut. Tapi sayang begitu sayang, hingga hari ke-dua puluh enam baru ada tiga individu yang menyetor hasil review mereka. Hingga host memberi penegasan apabila hingga deadline pengumpulan review hanya berjumlah lima atau kurang dari lima maka event terpaksa dibatalkan. Hal ini tentu aneh mengingat adanya hadiah yang harusnya menarik minat. Apa yang salah?

Pada batas akhir pengumpulan review, akhirnya ada enam individu yang mengikutinya dan otomatis acara tidak jadi dibatalkan. Syukurlah... Berikut ini review mereka berenam:

Setelah review terkumpul, selanjutnya adalah tahap penjurian. Ah! Saya lupa tentang para juri. Para juri adalah juga anggota grup yang berperan aktif dalam dunia perbukuan baik di dalam maupun di luar kehidupan maya mereka. Ada tiga orang juri dengan satu juri adalah pemenang dari RC sebelumnya.

Juri telah memberi penilaian mereka dan host telah menghitung totalnya. Pemenangnya adalah:
1. Gita Savitri Putri (257 poin)
2. Maryana Ulfah (251 poin)
3. Ambu Dian (243 poin)

Wow! Selamat kepada para pemenang! Juara pertama, kedua, dan ketiga masing-masing akan mendapatkan hadiah novel: Outcast of Pride karya Maximilian Surjadi, The Apuila's Child karya Ruwi Meita, dan Bara Aksadewa karya Mahfudz Asa. Silakan hubungi mas Dion Yulianto untuk pengambilan hadiah. Oh iya, untuk para pemenang dimohon untuk membuat review dari novel yang kalian dapat dan kirim ke mas Dion.

Acara ini terlaksana berkat para admin grup Penggemar Novel Fantasi Indonesia, para juri dan sponsor yang telah menghibahkan novelnya sebagai hadiah untuk Reading Challenge kali ini. Dan tidak lupa untuk Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie untuk novelnya yang sangat fantasi.

Ada sedikit catatan dari sponsor melalui mas Dion Yulianto tentang novel fantasi lokal Indonesia:
"Terima kasih kepada teman-teman semua yang sudah berpartisipasi dalam RC kali ini. Tidak lain tidak bukan tujuan saya memilh Planetes sebagai RC adalah untuk mengenalkan pembaca pada karya-karya penulis lokal agar mindset kita tidak dikuasai novel2 terjemahan asing.
Dengan begini, penulis pasti mendapatkan banyak sekali saran dan masukan di Goodreads dan blog. Sudah berkenan untuk membaca saja kami sudah berterima kasih, apalagi membuat-kan review-nya, apapun itu, kami sangat berterima kasih karena telah mencicipi Planetes. Semoga tidak kapok lagi ya kalau dapat RC lagi dari DIVA.
Hidup fiksi fantasi dalam negeri!"

Review dari host dan juri:

Wednesday, August 7, 2013

Happy Eid Mubarak!

Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laailaha ilallahu wallahu akbar… Allaahu Akbar… Walillahilhamd…

Gema takbir mengiringi penguatanku petang ini, tepat malam sebelum 1 Syawal tahun ini; malam takbiran, malam lebaran. Sungguh hanya sekejap mata saja manusia hidup di alam dunia. Aku kira baru kemarin lusa kita mulai sholat isya dan tarawih berjamaah pertama di masjid, malam ini sudah berada di penghujung bulan penuh berkah. Semoga kita bertemu kembali dengan bulan yang di dalamnya terdapat malam kemuliaan yang baiknya melebihi malam seribu bulan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin…

Kalian tentu tahu bahwa lebaran adalah event yang begitu dinanti-nanti setiap tahun; tradisi yang tidak begitu saja dilewatkan setiap tahun. Ketika mudik merupakan hal yang begitu membahagiakan, mudik pula menjadi alasan klasik untuk cuti libur lebaran. Semua orang menyempatkan diri bertemu orang tua di kampung halaman, bersilaturrahmi bersama sanak saudara, hingga kembali menjadi orang yang fitri.

***

Tak banyak yang ingin kuceritakan kali ini, hanya rasa yang ada dalam hati; senang dan sedih.

Ah, sebenarnya tidak perlu aku bercerita ini, tapi aku harus, untuk kenanganku di masa mendatang. Lebaran kali ini tidak begitu meriah. Pakde dari Tangerang, saudara yang di sana aku tinggal untuk kuliah, tidak pulang kampung bersama keluarganya. Ada masalah yang begitu berbelit yang Allah uji kepada mereka. Selain masalah kuota haji yang begitu mendesak, ada juga masalah dengan anaknya yang tidak perlu aku ceritakan. Rahasia keluarga.

Yang lebih menyedihkan, kedua orang tuaku dan adik-adikku tidak hadir di rumah. Kesibukkan ayahku yang tidak ada kompromi membuat mereka berlebaran di kota asing. Aku tidak ikut karena harus menemani nenek yang memang tinggal sendiri di rumah bila ibuku pergi. Hanya keluarga pakde dari Indramayu yang bisa berlebaran bersama nenek. Tidak begitu buruk, walaupun kemeriahan tidak begitu kentara.

Kesenangan aku raih dengan kemenangan menahan godaan-godaan selama berpuasa, menjadi hamba Allah yang taat yang mencoba melaksanakan amalan wajib dan sunnah dengan penuh kesungguhan. Walaupun terkadang aku menyerah di tengah jalan, semangatku terus berkobar hingga akhir Ramadan. Alhamdulillah, aku mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu satu bulan selama Ramadan. Semoga ayat-ayat yang kubaca menjadi pengingat betapa kuasa Allah atas segala sesuatu.

Selain itu, kemarin ada acara buka bersama teman-teman alumni kelas XII IPA 2 tahun 2011. Sungguh acara yang dinanti-nanti ketika kenangan masa SMA dikisahkan kembali. Sebenarnya, acara ini merupakan acara rutin setiap bulan puasa, yang berarti sudah dua kali. Yang berbeda adalah temanku yang tinggal di Palembang menyempatkan pulang kampung ke tempat neneknya dan hadir dalam acara.


Buka Bersama, Ramadan 1434 H

***

Allah Mahatahu apa yang ada di dalam hati tiap-tiap makhluk-Nya. Begitu juga hatiku yang campur-aduk menjalani Ramadan tahun ini. Aku diajarkan tentang makna niat, segala macam hal yang kita rencanakan dan kita niatkan sepenuh hati pasti akan terlaksana dengan baik dan mendapat akhir yang baik.

Selain itu aku belajar tentang keinginan; apa yang kita inginkan bahkan yang sudah jelas ada di depan mata, tidak selalu kita dapatkan, karena itulah yang Allah inginkan. Mungkin Allah menginginkan kita menjauhi apa yang kita inginkan karena akan membuat kita lengah. Atau mungkin Allah menginginkan kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita inginkan. Wallahu’alam bishshawab…

Hal yang aku ingat adalah salah satu ceramah sholat tarawih di masjid beberapa hari lalu. Sang penceramah berkata bahwa Bulan Ramadan adalah bulan latihan. Seberapa besar kita dapat berlatih menahan segala keburukan yang kita lakukan pada bulan-bulan sebelum Ramadan. Seperti latihan-latihan lain, tentu saja apa yang kita lakukan begitu sulit bahkan mustahil untuk kita lakukan. Tetapi, bila kita berlatih dengan sungguh-sungguh, kita akan menjadi ahli. Subhanallah…

Akhir kata, aku minta maaf karena berbohong tentang “tak terlalu banyak yang ingin kuceritakan,” nyatanya hampir empat halaman aku menulis. Aku bercerita adalah untuk kebaikan dan pengingat atas diriku. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk siapapun, atau untuk kalian yang sedang membaca. Semoga Ramadan ini menjadi berkah sekaligus hikmah dalam kehidupan kita masing-masing dan menjadikan kita manusia yang lebih baik di kemudian hari.

***



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.


***

Allaahu akbar… Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laailaha ilallahu wallahu akbar… Allaahu Akbar… Walillahilhamd…

 Cilacap, 7 Agustus 2013
(ketika Ramadan berkemas dan kita berharap berjumpa dengannya lagi)

Tuesday, July 9, 2013

Something We're Waiting For?!

Marhaban Yaa Ramadhan…

Sungguh waktu yang ditunggu-tunggu setiap tahun adalah ketika Bulan Suci Ramadhan datang. Ya. Waktu dimana kita benar-benar diberi kelapangan yang selapang-lapangnya untuk terus memohon ampun dan meminta berkah dari Sang Maha Suci. Waktu dimana kita diberi keleluasaan untuk terus beribadah kepada Allah mengharap ridho-Nya. Dan waktu dimana kita diajarkan untuk bersabar dan berakhlakul karimah dalam menghadapi cobaan hidup yang diberikan oleh Allah.

***

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (Q.S. Al-Baqarah : 183).

***

Bukan hal yang tabu jika kita selalu dihadapkan pada perbedaan waktu awal puasa. Tidak dipungkiri karena keberagaman masyarakat muslim di Indonesia yang sangat beragam membuat perbedaan terlihat mencolok. Juga luas wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke memberikan perbedaan pada penentuan hilal di setiap wilayah tersebut. Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam.

Semua perbedaan dan keberagaman itu tidak menjadikan masyarakat muslim Indonesia tercerai berai. Sebaliknya, malah membuat masyarakat muslim Indonesia lebih menghargai satu sama lain. Dan memang seharusnya begitu!

Yang selalu dirindukan pada Bulan Ramadhan ada banyak hal. Terutama tentang Sholat Tarawih berjamaah di masjid yang pada awal Bulan penuh terisi jamaah, di tengah Bulan banyak berkurang; lebih dari setengahnya, dan di akhir Bulan kembali terisi penuh. Itu seperti siklus tapal kuda.

Tapal Kuda

Juga tentang sahur dan berbuka puasa bersama keluarga. Waktu ketika kita terbiasa tidur, kita disunnahkan untuk sahur dan itu terasa nikmat. Juga ketika berbuka puasa, waktu yang sangat ditunggu untuk segera melepas dahaga mengharapkan puasa kita diterima oleh Allah.

Tak ada yang lebih dinantikan setiap tahunnya, selain Bulan yang penuh rahmat, penuh ampunan, dan penuh cobaan ini. Dan semoga kita benar-benar menjadi manusia yang lebih baik lagi selepas Bulan Ramadhan.

Marhaban Yaa Ramadhan…

Tangerang, 9 Juli 2013
(ketika waktu yang ditunggu-tunggu datang dengan cantik)