Wednesday, October 2, 2013

Group's Event: Reading Challenge #2

Oke ini adalah catatan kaki mengenai Reading Challenge kedua di grup “Penggemar Novel Fantasi Indonesia” yang dilaksanakan selama satu bulan dari tanggal 1 sampai 30 September 2013 dengan saya sendiri sebagai host-nya.

Kita mulai darimana? Format acara Reading Challenge. Setiap Reading Challenge memiliki perbedaan, tapi dengan dasar yang sama: membuat review atas buku yang sudah ditentukan untuk dibaca. Jadi, event ini dibuat untuk meningkatkan kreativitas dan imajinasi para penggemar novel fantasi supaya mereka tidak hanya gemar membeli novel tebal dan membacanya saja, yang sepertinya semua orang bisa lakukan. Mereka ditawarkan untuk membuat review atau ulasan tentang apa yang mereka baca, tentu saja dengan subjektivitas mereka masing-masing yang dapat mengasah tingkat kreativitas individunya. Menarik bukan?

Selanjutnya adalah pemilihan novel fantasi untuk bahan ulasan. Hal ini penting karena setiap individu memiliki kegemaran sendiri tentang jenis novel fantasi yang mereka baca. Dan untuk RC kedua ini, sudah disepakati untuk memilih novel fantasi lokal sebagai bacaan untuk di-review. Mengapa? Karena tidak banyak yang tahu novel fantasi lokal itu seperti apa; bagaimana cerita dan rasa  yang disuguhkan para penulis lokal. Selain itu, dalam event RC pertama sudah dilaksanakan untuk membaca novel fantasi luar negeri. Dan novel yang terpilih untuk RC kedua ini adalah Planetes karya Ziggy Zee.


Planetes by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Setelah kedua hal itu disepakati, RC pun dilaksanakan dengan harapan setiap individu mengikuti acara tersebut. Tapi sayang begitu sayang, hingga hari ke-dua puluh enam baru ada tiga individu yang menyetor hasil review mereka. Hingga host memberi penegasan apabila hingga deadline pengumpulan review hanya berjumlah lima atau kurang dari lima maka event terpaksa dibatalkan. Hal ini tentu aneh mengingat adanya hadiah yang harusnya menarik minat. Apa yang salah?

Pada batas akhir pengumpulan review, akhirnya ada enam individu yang mengikutinya dan otomatis acara tidak jadi dibatalkan. Syukurlah... Berikut ini review mereka berenam:

Setelah review terkumpul, selanjutnya adalah tahap penjurian. Ah! Saya lupa tentang para juri. Para juri adalah juga anggota grup yang berperan aktif dalam dunia perbukuan baik di dalam maupun di luar kehidupan maya mereka. Ada tiga orang juri dengan satu juri adalah pemenang dari RC sebelumnya.

Juri telah memberi penilaian mereka dan host telah menghitung totalnya. Pemenangnya adalah:
1. Gita Savitri Putri (257 poin)
2. Maryana Ulfah (251 poin)
3. Ambu Dian (243 poin)

Wow! Selamat kepada para pemenang! Juara pertama, kedua, dan ketiga masing-masing akan mendapatkan hadiah novel: Outcast of Pride karya Maximilian Surjadi, The Apuila's Child karya Ruwi Meita, dan Bara Aksadewa karya Mahfudz Asa. Silakan hubungi mas Dion Yulianto untuk pengambilan hadiah. Oh iya, untuk para pemenang dimohon untuk membuat review dari novel yang kalian dapat dan kirim ke mas Dion.

Acara ini terlaksana berkat para admin grup Penggemar Novel Fantasi Indonesia, para juri dan sponsor yang telah menghibahkan novelnya sebagai hadiah untuk Reading Challenge kali ini. Dan tidak lupa untuk Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie untuk novelnya yang sangat fantasi.

Ada sedikit catatan dari sponsor melalui mas Dion Yulianto tentang novel fantasi lokal Indonesia:
"Terima kasih kepada teman-teman semua yang sudah berpartisipasi dalam RC kali ini. Tidak lain tidak bukan tujuan saya memilh Planetes sebagai RC adalah untuk mengenalkan pembaca pada karya-karya penulis lokal agar mindset kita tidak dikuasai novel2 terjemahan asing.
Dengan begini, penulis pasti mendapatkan banyak sekali saran dan masukan di Goodreads dan blog. Sudah berkenan untuk membaca saja kami sudah berterima kasih, apalagi membuat-kan review-nya, apapun itu, kami sangat berterima kasih karena telah mencicipi Planetes. Semoga tidak kapok lagi ya kalau dapat RC lagi dari DIVA.
Hidup fiksi fantasi dalam negeri!"

Review dari host dan juri:

Wednesday, August 7, 2013

Happy Eid Mubarak!

Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laailaha ilallahu wallahu akbar… Allaahu Akbar… Walillahilhamd…

Gema takbir mengiringi penguatanku petang ini, tepat malam sebelum 1 Syawal tahun ini; malam takbiran, malam lebaran. Sungguh hanya sekejap mata saja manusia hidup di alam dunia. Aku kira baru kemarin lusa kita mulai sholat isya dan tarawih berjamaah pertama di masjid, malam ini sudah berada di penghujung bulan penuh berkah. Semoga kita bertemu kembali dengan bulan yang di dalamnya terdapat malam kemuliaan yang baiknya melebihi malam seribu bulan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin…

Kalian tentu tahu bahwa lebaran adalah event yang begitu dinanti-nanti setiap tahun; tradisi yang tidak begitu saja dilewatkan setiap tahun. Ketika mudik merupakan hal yang begitu membahagiakan, mudik pula menjadi alasan klasik untuk cuti libur lebaran. Semua orang menyempatkan diri bertemu orang tua di kampung halaman, bersilaturrahmi bersama sanak saudara, hingga kembali menjadi orang yang fitri.

***

Tak banyak yang ingin kuceritakan kali ini, hanya rasa yang ada dalam hati; senang dan sedih.

Ah, sebenarnya tidak perlu aku bercerita ini, tapi aku harus, untuk kenanganku di masa mendatang. Lebaran kali ini tidak begitu meriah. Pakde dari Tangerang, saudara yang di sana aku tinggal untuk kuliah, tidak pulang kampung bersama keluarganya. Ada masalah yang begitu berbelit yang Allah uji kepada mereka. Selain masalah kuota haji yang begitu mendesak, ada juga masalah dengan anaknya yang tidak perlu aku ceritakan. Rahasia keluarga.

Yang lebih menyedihkan, kedua orang tuaku dan adik-adikku tidak hadir di rumah. Kesibukkan ayahku yang tidak ada kompromi membuat mereka berlebaran di kota asing. Aku tidak ikut karena harus menemani nenek yang memang tinggal sendiri di rumah bila ibuku pergi. Hanya keluarga pakde dari Indramayu yang bisa berlebaran bersama nenek. Tidak begitu buruk, walaupun kemeriahan tidak begitu kentara.

Kesenangan aku raih dengan kemenangan menahan godaan-godaan selama berpuasa, menjadi hamba Allah yang taat yang mencoba melaksanakan amalan wajib dan sunnah dengan penuh kesungguhan. Walaupun terkadang aku menyerah di tengah jalan, semangatku terus berkobar hingga akhir Ramadan. Alhamdulillah, aku mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu satu bulan selama Ramadan. Semoga ayat-ayat yang kubaca menjadi pengingat betapa kuasa Allah atas segala sesuatu.

Selain itu, kemarin ada acara buka bersama teman-teman alumni kelas XII IPA 2 tahun 2011. Sungguh acara yang dinanti-nanti ketika kenangan masa SMA dikisahkan kembali. Sebenarnya, acara ini merupakan acara rutin setiap bulan puasa, yang berarti sudah dua kali. Yang berbeda adalah temanku yang tinggal di Palembang menyempatkan pulang kampung ke tempat neneknya dan hadir dalam acara.


Buka Bersama, Ramadan 1434 H

***

Allah Mahatahu apa yang ada di dalam hati tiap-tiap makhluk-Nya. Begitu juga hatiku yang campur-aduk menjalani Ramadan tahun ini. Aku diajarkan tentang makna niat, segala macam hal yang kita rencanakan dan kita niatkan sepenuh hati pasti akan terlaksana dengan baik dan mendapat akhir yang baik.

Selain itu aku belajar tentang keinginan; apa yang kita inginkan bahkan yang sudah jelas ada di depan mata, tidak selalu kita dapatkan, karena itulah yang Allah inginkan. Mungkin Allah menginginkan kita menjauhi apa yang kita inginkan karena akan membuat kita lengah. Atau mungkin Allah menginginkan kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita inginkan. Wallahu’alam bishshawab…

Hal yang aku ingat adalah salah satu ceramah sholat tarawih di masjid beberapa hari lalu. Sang penceramah berkata bahwa Bulan Ramadan adalah bulan latihan. Seberapa besar kita dapat berlatih menahan segala keburukan yang kita lakukan pada bulan-bulan sebelum Ramadan. Seperti latihan-latihan lain, tentu saja apa yang kita lakukan begitu sulit bahkan mustahil untuk kita lakukan. Tetapi, bila kita berlatih dengan sungguh-sungguh, kita akan menjadi ahli. Subhanallah…

Akhir kata, aku minta maaf karena berbohong tentang “tak terlalu banyak yang ingin kuceritakan,” nyatanya hampir empat halaman aku menulis. Aku bercerita adalah untuk kebaikan dan pengingat atas diriku. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk siapapun, atau untuk kalian yang sedang membaca. Semoga Ramadan ini menjadi berkah sekaligus hikmah dalam kehidupan kita masing-masing dan menjadikan kita manusia yang lebih baik di kemudian hari.

***



Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.


***

Allaahu akbar… Allaahu Akbar… Allaahu Akbar… Laailaha ilallahu wallahu akbar… Allaahu Akbar… Walillahilhamd…

 Cilacap, 7 Agustus 2013
(ketika Ramadan berkemas dan kita berharap berjumpa dengannya lagi)